Sabtu, 04 Desember 2010

Ktika Mentari Redup MnJadi Lentera Masih Bisa Terangi Alamkah...??

Ktika Sang Karang Rapuh TerKikis Masih Kuat & Tetap Tegarkah...??

Ktika Badai Meluluh-Lantakan Masih Mampu Tersenyumkah...??

Ktika Tetes Hujan MnJadi Air Mata Masih Bisa Bertahankah...??

Tak Sanggup Bila DiPaksakn & Tak Baik Bila Hnya KterPaksaan...!!

Sabtu, 13 November 2010

Berterimakasihlah pd org yg telah menyakiti atau melukaimu,sebab mereka telah memperkuat keteguhan hatimu
Be gratefull to those who have hurt or harmed you, for they have reinforced your determination

Berterimakasihlah pd org yg telah menipumu,sebab mereka telah memperdalam wawasanmu.
Be gratefull to those who deceived you, for they have deepened your insight

Berterimakasihlah pd org yg telah memukulmu,sebab mereka telah mengurangi penghalangmu
Be gratefull to those who have hit you, for they have reduced your obstacles

Berterimakasihlah pd org yg telah meninggalkanmu,sebab mereka telah mengajarmu menjadi orang mandiri
Be gratefull to those who abandoned you, for they taught you to be independent

Berterimakasihlah pd org yg telah membuatmu terhuyung, sebab mereka telah memperkuat kemampuanmu
Be gratefull to those who made you stumble, for they have strengthened your ability.

Berterimakasihlah pd org yg telah mencelamu,memfitnahmu. Sebab mereka telah menambah kebijaksanaan,Ketenangan dan konsentrasimu
Be gratefull to those who denounced,slander yourself, for they have increased your wisdom,serenity and concentration.

REVIEW CATATAN YANG LALU :

Saat bertemu dgn org yg benar-benar engkau kasihi,
Hrslah berusaha memperoleh kesempatan utk bersamanya seumur hidupmu.
Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.
Saat bertemu teman yg dpt dipercaya,rukunlah bersamanya.
Krn seumur hidup manusia,teman sejati tak mudah ditemukan.

Saat bertemu penolongmu,Ingat utk bersyukur padanya.
Karena ialah yg mengubah hidupmu
Saat bertemu org yg pernah kau cintai,
Ingatlah dgn tersenyum utk berterima-kasih .
Karena ia lah org yg membuatmu lebih mengerti tentang kasih

Saat bertemu org yg pernah kau benci,Sapalah dgn tersenyum.
Karena ia membuatmu semakin teguh/kuat.
Saat bertemu org yg pernah mengkhianatimu,Baik-baiklah berbincanglah dgnnya.
Karena jk bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.

Saat bertemu org yg pernah diam-diam kau cintai,Berkatilah dia.
Krn saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia ?
Saat bertemu org yg tergesa-gesa meninggalkanmu,
Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu.
Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu

Saat bertemu org yg pernah salah-paham padamu,
Gunakan saat tersebut utk menjelaskannaya.
Krn engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja utk menjelaskan.

Saat bertemu org yg saat ini menemanimu seumur hidup,
Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendptkan kebahagiaan n cinta sejati

Setiap mawar berduri, sama seperti sifat dalam setiap diri manusia, ada sebagian hal yg tak dpt kau tahan/sabar.

Melindungi sekuntum bunga mawar,tidak hrs menghilangkan durinya, hanya bisa belajar bagaimana tidak terluka oleh durinya, masi ada lagi, yaitu bagaimana tidak membiarkan duri kita melukai org yg kita cintai.

Medio November 2010.
Hormat Saya

CINTA FANS CLUB
(Hiduplah dengan penuh Cinta daripada kita ada dalam kebencian karena sesungguhnya kebencian hanya akan merusak nilai dari diri kita sendiri.Mari kita bergandeng tangan n ciptakan cinta kasih pada semua umatNYA. amin)

Sabtu, 06 November 2010

Tentang Saya: 1_526743293l.jpg 1_115866959l.jpg 1_427897873l.jpg “Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana bgitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka Yang pertama berkata: “Aku adalah damai!” Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sediki demi sedikit sang lilin padam. Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya. Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara:”Aku adalah Cinta” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.” “Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah lilin ketiga. Tanpa terduga… Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, aku takut akan kegelapan!” Lalu ia menangis tersedu-sedu. Lalu dengan terharu lilin keempat berkata: Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainya: “Akulah HARAPAN” Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga lilin lainnya. Apa yang tidak pernah mati hanyalah H A R A P A N. yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, damai, cinta dengan HARAPAN-nya! “Usah diratapi perpisahan dan kegagalan bercinta Karena pada hakekatnya jodoh itu bukan ditangan manusia Atas kasih sayang Allah kau dan dia bertemu Dan atas limpahan kasihNya juga kau dan dia dipisahkan Bersama hikmah yang tersembunyi! ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan dan ada orang2 yang tidak ingin kita tinggalkan tapi ingatlah, melepaskan bukan berarti ahir dari dunia melainkan awal dari kehidupan yang baru apabila cintamu tidak berhasil, bebaskan dirimu biarkan hatimu kembali menebar sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi ingatlah, km mungkin menemukan cinta dan kehilangannya... tetapi saat cinta itu dimatikan, km km tidak perlu mati bersamanya..." "***Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh Entah bagaimana, dalam perjalanan kehidupanmu, kamu akan belajar tentang dirimu sendiri dan sesuatu saat km akan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada dalam hidup ini



Ku ingin menulis puisi…

Tentang cinta…

Semua kata habis di baca

Lenyap imajinasi setiap kata kata

Tak ku temukan dari samudranya

Atau tentang hadirnya cinta…

Sekarang ku tak merasakanya

Tentang harinya cinta…

Mungkin ku pernah mengalaminya

Di sini hanya tersangkut dahan kata kata darinya

“Cinta…. Dengarkan…!”

“Harimu tiba… sambutlah ia…!”

“Harimu melekat mutiara kesucian”

“Hadirmu menabur kasih setiap kerinduan”

“Memeluk hangat bersama sayang”

“Mewarnai singgasana kehidupan”

“Mekar mawar waktu senja…”

“Memberi saksi harimu tiba”

“Mendampingi setiap untaian kasihmu”

“Memaknai belaian indahmu”

“Melambangi arti hidupmu”

“Sambutlah valentinmu!”

“Hari ini tiba…”

“Harinya cinta….”

“Melantun irama cinta”

“Memekar bunga”

“Sepoi angin menyelimutinya”

“Menari awan bahagia di siangnya”

“Di malam bekedip bintang mewarnainya”

“Indah menyambut cinta”

“Indah merasakanya … Cinta…”

Sampai sini ku tak mengejar kata

Yang ada hanya buaian cinta di dada

Ku tak ingin menuliskanya

Hanya gombalan kata dari cinta

Ku jua tak merasakanya

Hari ini juga…

Karena cintaku .. tak lebih tuk keluarga

Puisi Valentine Makna Cinta

Kata kata di manja sayang

Tapi cinta kian tak kunjung datang

Kata kata di manja sayang

Ku bukan pujangga,tapi ku merindukannya

Merindukan kasih cinta

Cintanya kaum hawa

Kata kata di manja sayang

Ku juga bukan sastrawan,salahkah ku bila menanti harapan…?

Harapan di masa depan

Melekatnya cinta bersama kehidupan

Menapak kata demi kata

Mengikat untaian kata kata cinta

Di hari penuh kasih dan cinta

Coba ku mengungkap makna kata cinta

Menapak kata demi kata

Apa arti sastra tanpa cinta padanya

Hidup membuta melepas kasih darinya

Kasih cinta…

Mewangi cinta menghias dunia

Berakhir cinta kiamat dunia

Menerang terang dunia bersamanya cinta

Bersama cahayanya…. Cahaya cinta

Cinta yang kan selalu ada

Tak pernah pudar selamanya

Seiring bumi ada

Melekat cinta bersamanya

TENTANG CINTA

Hanya butuh

1 menit untuk dapat suka dengan seseorang, hanya butuh 1 jam untuk menyukai
seseorang dan 1 hari untuk mencintai seseorang tapi butuh waktu seumur hidup
untuk melupakan seseorang. Pergilah untuk seseorang yang membuatmu tersenyum
karena hanya butuh senyuman untuk membuat hari yang gelap terlihat terang.






Ada masanya
dalam hidup ketika kamu merasa sangat merindukan seseorang dan kamu berharap
dapat mengambil dia dari mimpimu dan memeluknya dalam kehidupan nyata!
Bermimpilah apa yang kamu ingin mimpikan, pergilah kemana kamu ingin pergi,
jadilah apa yang kamu ingini karena kamu hanya mempunyai satu kehidupan dan
satu kesempatan untuk melakukan semua hal yang kamu ingin lakukan.
BINGUNG KARENA CINTA

Bila teLapak tanganmu berkeringat,


Hatimu dag dig dug,


Suaramu bagaikan tersangkut ditenggorokan


Itu bukan cinta, tapi suka.............

Jumat, 05 November 2010

Mengawini Ibu
Senarai Kisah yang Menggetarkan

“Mencintai adalah pekerjaan abadi yang tak pernah selesai, dan
cinta adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka.
Cintalah yang mesti kamu rawat, Anakku, bukan dendam.”

Rewa terlahir dari keluarga kaya. Ayahnya, Daeng Sambang, pengusaha sukses berwatak keras. Ibunya, Naura Shabrina, perempuan jelita keturunan Makassar-Pakistan yang lembut lagi penurut. Bencana bermula ketika ibunya jatuh dari tangga dan sejak itu tak kuasa melayani berahi suaminya. Sepanjang waktu ayahnya membawa gadis-gadis muda ke rumah dan mencumbunya di mana saja. Anehnya, semua nama gadis itu berinisial “N”: Nia, Nadya, Nindya, Nayla, Nisrina, Nadira. Rewa menyaksikan pengkhianatan dan kesetiaan berjalan beriringan, hingga akhirnya ibunya meninggal dunia. Dari sanalah dendam kepada sang ayah bermula.

Tetapi pada suatu hari, ketika Rewa melihat tubuh molek “ibu” barunya tergolek di ranjang, dia seakan dirasuki roh ayahnya. Gairahnya bangkit seketika. Secara instingtif dia langsung menggaulinya, lalu menjadi kecanduan sesudahnya. Hampir semua “ibunya” pernah dia kawini. Rewa terjebak dalam permainan berbahaya. Dia tersekap di antara nafsu titisan ayahnya dan cinta kasih ibunya yang penuh kesabaran dan permaafan.

Inilah sebuah buku yang membabar makna dan hakikat cinta, kesetiaan, kerinduan, kebencian, juga angkara murka. Sebuah senarai kisah yang digali dari khazanah tradisi, diramu dalam narasi-narasi tak terperi, seakan hendak menyadarkan kita betapa dekatnya cinta dan benci, tak henti-henti bertarung di ruang yang sangat sempit bernama hati.

TESTIMONI-TESTIMONI:

“Mengawini Ibu ditulis dalam ketegangan antara mengajak pembaca kembali ke hulu atau hanyut ke muara ‘sungai kebudayaan’ di mana penulisnya lahir. Tapi tak ada kisah yang betul-betul sampai di hulu atau di hilir, Khrisna seperti sengaja membawa kita hanya seolah-olah sampai—sebab di antara keduanya ternyata ada begitu banyak cabang. Di cabang-cabang kecil sungailah kisah-kisah itu berenang—mengajak pembaca membayangkan hulu dan hilir.”
—M Aan Mansyur, penyair

“Sejauh ini, banyak orang mencurigai kearifan lokal sebagai ‘benda’—yang bisa ditakar dalam-dangkalnya, ditimbang berat-ringannya—namun, Khrisna Pabichara dalam buku ini hendak memaklumatkan bahwa lokalitas itu adalah sebuah ‘peristiwa’ yang tiada habis dalam sekali baca, yang selalu ditunda tafsir tunggalnya.”
—Damhuri Muhammad, cerpenis dan esais

“Lewat Mengawini Ibu, meski sarat dengan nuansa kultur Bugis-Makassar, tanpa sadar kita berpetualang melintasi panorama persentuhan antar-budaya. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa pemanfaatan local genius mampu melahirkan kisah dengan gagasan yang bersifat universal. Tak banyak penutur kisah—Khrisna Pabichara salah seorang di antaranya—yang mampu memanfaatkan anasir kultural dan unsur etnika sebagai kekuatan cerita, baik sebagai pembingkai maupun sebagai inti kisah.”
—Ilham Anwar, artis film

“Khrisna tak pernah ingin jauh dari pembaca, oleh karenanya kita selalu diajak terlibat dalam setiap kisahnya. Sebagai ‘pendongeng modern’, ia tak semata piawai menuliskan gaya lisan secara benar, justru lebih terasa gizi ceritanya ketika dengan sepenuh kesadaran mengeksplorasi kearifan lokal ranah Bugis-Makassar.”
—Kurnia Effendi, cerpenis dan pencinta sastra

“Membaca Khrisna Pabicara seperti mengorek bocoran tentang tanah kelahirannya, Bugis-Makassar. Ada kerumitan di tengah keindahan, juga keberanian mengemukakan sesuatu yang menantang. Mengawini Ibu bagi saya adalah sebuah ketaklaziman, kelancangan, dan keanehan. Kita perlu membacanya agar memahami dunia dengan segala rupanya, dan itu tentu saja mendewasakan.”
—Hanna Fransisca, penyair dan prosais

“Tulisan Khrisna mengetengahkan tema keseharian dalam masyarakat Bugis-Makassar yang patriarkis: poligami, kawin paksa, dan balas dendam. Perempuan selalu jadi korban dalam sistem ini. Selain itu—yang tambah menyenangkan—ia juga mengurai suasana batin bissu yang transgender, pemuka adat yang dulu berperan penting dalam istana, bersama raja dan ulama.”
—Linda Christanty, penulis

“Buku yang penuh dengan khazanah tradisi ini menemani kita memasuki sebuah dunia yang berbeda, yang penuh intrik, kebencian, romansa, dan cinta. Karya mengesankan yang akan mempesona siapa saja yang beruntung membacanya.”
—Bamby Cahyadi, cerpenis

“Khrisna Pabichara adalah pialang kisah yang berhasil menyandingkan antara kepiawaian bertutur dengan kemampuan menyuntikkan nilai-nilai. Senarai menggetarkan tentang hakikat kebenaran dan kemanusiaan. Mendebarkan!”
—Agus Sijaya Dasrum, pekerja seni

“Membaca kisah anggitan Khrisna Pabichara seperti menemukan titik-titik puisi kehidupan di dalamnya. Berirama, turun, naik, dan terkadang meronta-ronta dengan keliaran yang memikat. Mengawini Ibu menyuguhkan ribuan amunisi gagasan yang dilontarkan—dan menghantam—dengan kekuatan bahasa yang padat. Bukan hanya cerita yang disandang, puisi pun didendang. Selamat!”
—Fahri Azisa, cerpenis

“Membaca buku ini seperti disuguhi peristiwa ulang-alik antara hitam, putih dan sesekali melebar ke abu-abu. Ke sebuah tempat, yang sering disebut sebagai ‘tempat kelahiran’. Tempat para ayah dan ibu memberi warna kepada anak-anaknya.”
—Mardi Luhung, cerpenis dan penyair

“Kisah memikat tentang pertengkaran nafsu dan cinta yang pasti akan menyeret pembaca ke dalam kemewahan dan kerapuhan tradisi, cinta yang tak terkalahkan dan yang terkalahkan, persekongkolan dan kesendirian, pengkhianatan dan kesetiaan, serta persinggungan keras antara budaya dan modernitas. Membacanya, seperti membangun kembali istana harapan, yakni “kehidupan yang lebih manusiawi”. Sebuah senarai yang memikat!”
—Meilani Goenawan, penyuka sastra
Mengawini Ibu
Senarai Kisah yang Menggetarkan

“Mencintai adalah pekerjaan abadi yang tak pernah selesai, dan
cinta adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka.
Cintalah yang mesti kamu rawat, Anakku, bukan dendam.”

Rewa terlahir dari keluarga kaya. Ayahnya, Daeng Sambang, pengusaha sukses berwatak keras. Ibunya, Naura Shabrina, perempuan jelita keturunan Makassar-Pakistan yang lembut lagi penurut. Bencana bermula ketika ibunya jatuh dari tangga dan sejak itu tak kuasa melayani berahi suaminya. Sepanjang waktu ayahnya membawa gadis-gadis muda ke rumah dan mencumbunya di mana saja. Anehnya, semua nama gadis itu berinisial “N”: Nia, Nadya, Nindya, Nayla, Nisrina, Nadira. Rewa menyaksikan pengkhianatan dan kesetiaan berjalan beriringan, hingga akhirnya ibunya meninggal dunia. Dari sanalah dendam kepada sang ayah bermula.

Tetapi pada suatu hari, ketika Rewa melihat tubuh molek “ibu” barunya tergolek di ranjang, dia seakan dirasuki roh ayahnya. Gairahnya bangkit seketika. Secara instingtif dia langsung menggaulinya, lalu menjadi kecanduan sesudahnya. Hampir semua “ibunya” pernah dia kawini. Rewa terjebak dalam permainan berbahaya. Dia tersekap di antara nafsu titisan ayahnya dan cinta kasih ibunya yang penuh kesabaran dan permaafan.

Inilah sebuah buku yang membabar makna dan hakikat cinta, kesetiaan, kerinduan, kebencian, juga angkara murka. Sebuah senarai kisah yang digali dari khazanah tradisi, diramu dalam narasi-narasi tak terperi, seakan hendak menyadarkan kita betapa dekatnya cinta dan benci, tak henti-henti bertarung di ruang yang sangat sempit bernama hati.

TESTIMONI-TESTIMONI:

“Mengawini Ibu ditulis dalam ketegangan antara mengajak pembaca kembali ke hulu atau hanyut ke muara ‘sungai kebudayaan’ di mana penulisnya lahir. Tapi tak ada kisah yang betul-betul sampai di hulu atau di hilir, Khrisna seperti sengaja membawa kita hanya seolah-olah sampai—sebab di antara keduanya ternyata ada begitu banyak cabang. Di cabang-cabang kecil sungailah kisah-kisah itu berenang—mengajak pembaca membayangkan hulu dan hilir.”
—M Aan Mansyur, penyair

“Sejauh ini, banyak orang mencurigai kearifan lokal sebagai ‘benda’—yang bisa ditakar dalam-dangkalnya, ditimbang berat-ringannya—namun, Khrisna Pabichara dalam buku ini hendak memaklumatkan bahwa lokalitas itu adalah sebuah ‘peristiwa’ yang tiada habis dalam sekali baca, yang selalu ditunda tafsir tunggalnya.”
—Damhuri Muhammad, cerpenis dan esais

“Lewat Mengawini Ibu, meski sarat dengan nuansa kultur Bugis-Makassar, tanpa sadar kita berpetualang melintasi panorama persentuhan antar-budaya. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa pemanfaatan local genius mampu melahirkan kisah dengan gagasan yang bersifat universal. Tak banyak penutur kisah—Khrisna Pabichara salah seorang di antaranya—yang mampu memanfaatkan anasir kultural dan unsur etnika sebagai kekuatan cerita, baik sebagai pembingkai maupun sebagai inti kisah.”
—Ilham Anwar, artis film

“Khrisna tak pernah ingin jauh dari pembaca, oleh karenanya kita selalu diajak terlibat dalam setiap kisahnya. Sebagai ‘pendongeng modern’, ia tak semata piawai menuliskan gaya lisan secara benar, justru lebih terasa gizi ceritanya ketika dengan sepenuh kesadaran mengeksplorasi kearifan lokal ranah Bugis-Makassar.”
—Kurnia Effendi, cerpenis dan pencinta sastra

“Membaca Khrisna Pabicara seperti mengorek bocoran tentang tanah kelahirannya, Bugis-Makassar. Ada kerumitan di tengah keindahan, juga keberanian mengemukakan sesuatu yang menantang. Mengawini Ibu bagi saya adalah sebuah ketaklaziman, kelancangan, dan keanehan. Kita perlu membacanya agar memahami dunia dengan segala rupanya, dan itu tentu saja mendewasakan.”
—Hanna Fransisca, penyair dan prosais

“Tulisan Khrisna mengetengahkan tema keseharian dalam masyarakat Bugis-Makassar yang patriarkis: poligami, kawin paksa, dan balas dendam. Perempuan selalu jadi korban dalam sistem ini. Selain itu—yang tambah menyenangkan—ia juga mengurai suasana batin bissu yang transgender, pemuka adat yang dulu berperan penting dalam istana, bersama raja dan ulama.”
—Linda Christanty, penulis

“Buku yang penuh dengan khazanah tradisi ini menemani kita memasuki sebuah dunia yang berbeda, yang penuh intrik, kebencian, romansa, dan cinta. Karya mengesankan yang akan mempesona siapa saja yang beruntung membacanya.”
—Bamby Cahyadi, cerpenis

“Khrisna Pabichara adalah pialang kisah yang berhasil menyandingkan antara kepiawaian bertutur dengan kemampuan menyuntikkan nilai-nilai. Senarai menggetarkan tentang hakikat kebenaran dan kemanusiaan. Mendebarkan!”
—Agus Sijaya Dasrum, pekerja seni

“Membaca kisah anggitan Khrisna Pabichara seperti menemukan titik-titik puisi kehidupan di dalamnya. Berirama, turun, naik, dan terkadang meronta-ronta dengan keliaran yang memikat. Mengawini Ibu menyuguhkan ribuan amunisi gagasan yang dilontarkan—dan menghantam—dengan kekuatan bahasa yang padat. Bukan hanya cerita yang disandang, puisi pun didendang. Selamat!”
—Fahri Azisa, cerpenis

“Membaca buku ini seperti disuguhi peristiwa ulang-alik antara hitam, putih dan sesekali melebar ke abu-abu. Ke sebuah tempat, yang sering disebut sebagai ‘tempat kelahiran’. Tempat para ayah dan ibu memberi warna kepada anak-anaknya.”
—Mardi Luhung, cerpenis dan penyair

“Kisah memikat tentang pertengkaran nafsu dan cinta yang pasti akan menyeret pembaca ke dalam kemewahan dan kerapuhan tradisi, cinta yang tak terkalahkan dan yang terkalahkan, persekongkolan dan kesendirian, pengkhianatan dan kesetiaan, serta persinggungan keras antara budaya dan modernitas. Membacanya, seperti membangun kembali istana harapan, yakni “kehidupan yang lebih manusiawi”. Sebuah senarai yang memikat!”
—Meilani Goenawan, penyuka sastra

----------------------------------------
----------
Pengarang: Khrisna Pabichara
Penyunting: Salahuddien Gz
Pemindai Aksara: Ahmad Syarifuddin
Penggambar Sampul: Yudi Irawan
Penerbit: Kayla Pustaka (Jln. Ampera Raya Gg. Kancil 15, Ragunan Jaksel. 021-7884 7301)
Harga: Rp 40.000,- (170 Hlm. Bookpaper)
ISBN: 978-979-17997-7-5
--------------------------------------------------

Buku ini dicetak terbatas, jadi hanya beredar di toko buku-toko buku kawasan Jabodetabek. Dapatkan diskon 15% (jadinya Rp 34.000) untuk pembelian langsung di sini melalui account saya, "Khrisna Pabichara" (belum termasuk ongkos kirim). Kirim pesan pemesanan dan alamat yang dituju di INBOX saya. Buku akan dikirim melalui Pos/Tiki. Pembayaran melalui transfer ke rekening:

Kamis, 21 Oktober 2010

PENILAIAN SBAGIAN ORANG TRHDAP''CEWK CANTK vs CWK JLEK..!!

Klw Cewk Cntk RAJIN,dBilangnya:'Perfect sgt Mngagumkn''..

Klw Cewk Jlek RAJIN,dibilangnya:''Biasa Naluri Pembantu''..

Klw Cewk Cntq DAN2 MENOR,dBlangnya:'ckckck Arteez Banged'..

Klw C.Jlek DAN2 MENOR,dbilangnya:''Hati2 Orng Strezz Lewad''..

Klw C.Cntq BAWA COWK CAKEP,dBilangnya:'wah Psangn Serasi''..

Klw C.Jlek pasti dBilangnya:'Pasti Pelet Mbah Dukunnya Kuat'..

Klw C.Cntk INGIN JD ARTIS,dBilangnya:''Mukanya MenDukunk''..

Klw C.Jlek pasti dBilangnya:''Muke loh jauuuuhh Ngaca Dunk''..

Klw C.Cntq PNYATANG HEWAN,dBilangnya:''Prasaannya Lmbut''..

Klw C.Jelk dBilangnya:''SeSama Sodara Hrs Saling Menyayangi''..

Mngapa Org sering Menilai Hnya Dr Luarnya sj Bukn dr Hatinya..??

Cantik atw Jelek itu Bukn Keinginn qt,Tp Ciptaan Allah & Hya Titipn..

Jika Brasa SeSama Jelek Dilarang Saling Ngomongin Palagi Protez...

Biar Kt Jelek Yg Pnting Happy...I'm Sorry,JUST KIDDING...qqqq

Minggu, 03 Oktober 2010

ika Anda berdua saling mengasihi, tetapi masih sering bertengkar, janganlah berkecil hati. Dua jiwa yang sudah mapan, membutuhkan pengikisan pada sudut-sudut sikap dan perilaku masing-masing yang belum pas. Dan itu akan membutuhkan waktu. Tetapi, jika Anda bersabar, kebersamaan Anda akan menjadi sangat indah. Pertengkaran antara sepasang jiwa yang saling mengasihi adalah peremajaan kasih sayang

,,,,

Setiap Orang BerHAK Menginginkan DICINTA & MENCINTA... Cinta Dtg Pd SIAPAPUN Tak mengenal Paras,Bentuk,Penampilan Apalagi Status Sosial... WalauPun Utk MendapatkanNYA Ada Yg Beruntung & Belum Beruntung... Jangan PESIMIS Ketika Tak DiPilih & Tak DiLihat Oleh CINTA... S...

Sabtu, 02 Oktober 2010

Terima Kasih Tuhan.............

Kubuka MataKu Saat PanggilanMU menyadarkan Ragaku dr Kenikmatan Sesaat...

KU-ucap Syukur Tak Terhingga Karena KU-masih Bisa Menghirup UdaraMU...

Dan Diberi Kesempatan Tuk Bisa Memperbaiki Mulut,Hati & Perbuatanku...

"Terima Kasih Tuhan"...hanya Itu yg Bisa Keluar dari Mulut yg Slalu Berbuat Khilaf...

Met PAGI Kawan...Slmt Berjuang and Sukss selalu...Amien Yra...!...

CInta

Setiap Orang BerHAK Menginginkan DICINTA & MENCINTA...

Cinta Dtg Pd SIAPAPUN Tak mengenal Paras,Bentuk,Penampilan Apalagi Status Sosial...

WalauPun Utk MendapatkanNYA Ada Yg Beruntung & Belum Beruntung...

Jangan PESIMIS Ketika Tak DiPilih & Tak DiLihat Oleh CINTA...

Sebab Cinta Bisa Datang Kapan Saja & Mungkin Akan Datang Di Lain Waktu...

Cinta Bisa Datang Bisa Pergi & DiBalik Kbahagiaan Kadang Kala Ada Kecewa & Luka...

Itulah Rasanya CINTA Maka Bersiaplah Utk Menyambut & Merelakan CINTA...

Rabu, 24 Februari 2010

Putri Kecilku.....

Puteri Kecilku yang mungil dan ayu .....
Cepatlah besar matahariku......sayangilah ayah dan ibumu,,
kuatkan serta tabahkanlah atas penderitaanmu,,,

kau terlahir sebagai bayi prematur yang harus berjuang untuk bertahan hidup dengan membawa derita dan kehawatiran keluarga,

sekarang,,,,,,
kau tampak seperti layaknya balita pada umumnya....
kau nampak riang,cerdas,,,lincah,,,bak seekor ikan hias yang terletak dalam aquarium,meliuk liuk bermanufer ala pesawat tempur,,,

Puteri kecilku yang mungil dan ayu,,,,
gantungkanlah citacitamu,,,raihlah masa depanmu!...
tunjukanlah pada kedua orang tuamu,
bahwa kamu mampu untuk semua itu!,,,

Puteri Kecilku yang mungil dan ayu,,,,
baktikanlah jiwa ragamu, bagi bangsa dan negaramu!...